putih

kadang-kadang digambar terlalu sempurna hingga menimbulkan keanehan wujudkan watak putih yang sempurna dalam realiti. mungkin fiksyen atau naratif itu adalah cerminan kehidupan seperti yang dikatakan plato dalam teori mimesisnya. watak putih dalam naratif selalu diberi harapan dan impian, dan diakhiri dengan kesenangan dan kebahagiaan pula. namun dalam hakikat kehidupan yang dilalui, watak ini ada, tetapi tidak sempurna kerana kesempurnaan ditentukan Allah Maha Pencipta. manusia-manusia yang dipilih oleh Allah sahaja layak digelar manusia sempurna atau putih ini. selebihnya, manusia biasa berharapan, dan berusaha untuk menjadi yang terbaik.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s